Thursday, July 9, 2009

TIPS MEMPERTAHANKAN DAN MENINGKATKAN BISNIS

Dalam dunia usaha, kelangsungan hidup suatu bisnis ditentukan oleh beberapa faktor yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Kegagalan di salah satu faktor saja dapat mempengaruhi kinerja usaha yang kita jalankan secara keseluruhan, bahkan bisa menjadikan usaha tersebut bangkrut. Berikut ini faktor-faktor utama yang penulis ambil dari pengalaman para wirausahawan yang gagal dalam mempertahankan kelangsungan hidup usaha yang mereka jalankan:

Manajemen keuangan

Banyak wirausahawan yang tidak berkembang dan bahkan gagal karena ketidakmampuan mereka melakukan manajemen keuangan dengan baik. Sebenarnya tidak diperlukan pendidikan/keterampilan khusus untuk mendalami masalah keuangan ini. Intinya adalah bagaimana menginvestasikan kembali uang yang kita peroleh dengan susah payah dan mengerem pengeluaran-pengeluaran yang tidak diperlukan. Investasi ini bisa berupa upaya membesarkan usaha kita atau mencari mode investasi yang kita pahami, seperti membeli tanah, rumah, apartemen, emas, bermain saham (untuk jangka panjang), reksadana, deposito, dan lain-lain. Yang juga penting adalah memisahkan rekening pribadi wirausahawan dan rekening usahanya, jadi kita bisa mengevaluasi perkembangan usaha yang kita jalankan. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari dengan bisnis yang kita jalankan. Mereka yang berhasil adalah mereka yang berpandangan luas ke depan. Dalam hal pengelolaan pengeluaran, wirausahawan harus mampu menentukan skala prioritas dari yang terpenting hingga yang paling tidak penting. Wirausahawan juga dituntut membedakan antara kebutuhan (need) dan keinginan (want). Kebutuhan terdiri dari tiga: primer (sandang, pangan, papan), sekunder (hobby, hiburan), tersier (kemewahan, mobil, pesawat, makan di restoran mewah). Sementara keinginan tidak ada batasnya. Yang perlu kita perhatikan adalah pepatah lama yang masih relevan kapanpun dan dimanapun kita berada: lebih besar pasak daripada tiang. Ini harus kita hindari sejauh mungkin.

Gaya hidup

Persoalan gaya hidup ini kadang-kadang luput dari perhatian kita. Walaupun gaya hidup adalah hak setiap orang, tetapi kalau wirausahawan tidak bisa mengendalikan diri, maka tidak mustahil ini bisa menjerumuskan mereka ke dalam kebangkrutan. Walau terlihat kecil dan tak disadari, tetapi karena mereka menjadikannya aktivitas sehari-hari, maka secara akumulasi pengeluaran dari gaya hidup menjadi besar. Beberapa wirausahawan yang mulai menampakkan hasil dari jerih payahnya, terkadang mengubah gaya hidupnya secara drastis. Tak jarang yang (menurut istilah saya) mereka terkena sindrom OKB atau Orang Kaya Baru. Mereka tak dapat membedakan asset dan liabilitas (kewajiban) dan bahkan menjadi tidak logis dalam memuaskan gaya hidupnya. Hal yang penting diperhatikan disini adalah kemampuan untuk mengendalikan diri, membuang jauh-jauh rasa gengsi, tidak terpengaruh oleh bujukan/rayuan/pengaruh orang lain, termasuk orang-orang dekat.

Zona nyaman, enggan berubah

Tidak hanya di kalangan para karyawan kantoran, beberapa wirausahawan (terlebih yang telah mapan) terlena dengan pencapaian mereka. Mereka merasa puas dengan apa yang telah dicapai dan tidak menyadari bahwa dunia berubah begitu cepat. Karena tidak siap dengan perubahan yang terjadi, mereka pada akhirnya menjadi tergilas oleh wirausahawan lain yang terbuka terhadap perubahan. Perubahan ini bisa berupa teknologi, pola konsumsi konsumen, ketersediaan bahan baku, persaingan yang semakin ketat, perundang-undangan dan lain-lain. Tanpa mau menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi, maka langkah wirausahawan tidak akan kemana-mana, bahkan tidak mustahil malah menurun.

Tidak fokus

Ambisi memang menjadi resep yang tak dapat dipisahkan dari jiwa kewirausahaan yang sukses. Para wirausahawan perlu memiliki ambisi, tetapi juga perlu mengendalikannya. Sebaiknya ambisi dilandasi dengan sikap realistis, atau ambisi yang terukur. Tidak puas dengan satu usaha, mereka biasanya mulai melirik usaha lain. Bagi wirausahawan muda, ini memang baik untuk diversifikasi dan ekspansi usaha. Yang menjadi masalah adalah jika mereka menjalankan terlalu banyak usaha, sehingga susah mengontrolnya. Karena lemahnya kontrol ini, kadang-kadang bukan hanya satu usaha saja yang tidak berjalan mulus, tetapi dalam kondisi terburuk malah semuanya tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Banyak perusahaan besar yang pada mulanya melakukan hal ini. Tetapi pada akhirnya, mereka harus berfokus pada bisnis utama untuk memaksimalkan kinerja dan profitabilitasnya, disamping mempermudah pengontrolannya.

Konflik kepentingan

Karena keterbatasan modal, ada wirausahawan yang memulai usahanya dengan cara patungan dengan pihak lain. Sebenarnya ada keunggulan dari model ini, yakni mengurangi resiko meskipun hasilnya juga kurang maksimal. Namun yang sering terjadi adalah sulitnya menyatukan visi dan misi dua atau lebih pihak yang menjalin kerja sama ini. Biasanya salah satu pihak merasa bekerja terlalu keras, sementara pihak yang lain tidak. Jika konflik ini tak bisa diatasi, biasanya yang terjadi adalah bubarnya usaha yang telah mereka jalankan. Oleh karena itu, kerja sama yang melibatkan dua orang atau lebih harus disertai dengan perjanjian tertulis yang dengan jelas menyebutkan hak dan kewajiban setiap pihak yang terlibat untuk menghindari kemungkinan buruk di masa mendatang. Tidak sedikit dua orang bersaudara yang akhirnya bermusuhan karena konflik yang muncul tidak mampu mereka atasi dengan baik. Selain konflik internal tersebut, ada pula konflik eksternal yang berpotensi menghancurkan keutuhan. Ini bisa datang dari orang lain, pesaing, saudara, teman, pasangan, atau bahkan orang tua salah satu pihak yang merasa tidak puas. Disinilah pentingnya memisahkan masalah bisnis dan pribadi.

No comments:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar / kritik / saran Anda di bawah ini...