Showing posts with label WISDOM. Show all posts
Showing posts with label WISDOM. Show all posts

Sunday, May 23, 2010

TERUSKANLAH KEBAIKAN ITU

Banyak orang berpikir bahwa kebaikan yang mereka lakukan tidak akan berdampak apa-apa. Sebuah film berjudul "Pay it Forward" kiranya dapat menepis anggapan tersebut.
Film ini menceriterakan tentang seorang anak berumur 8 tahun yang berpikir untuk melakukan kebaikan kepada tiga orang di sekitarnya. "Jika tiga orang ini kemudian melakukan kebaikan kepada beberapa orang lagi dan begitu seterusnya, tentulah dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang baik dan saling mengasihi," demikian pikir Trevor, nama anak tersebut.
Trevor mulai mempraktekkan perbuatan kasih kepada manusia yang kesepian dan sudah menjadi pecandu alkohol. Ia menjauhkan minuman keras dari rumah mereka. Dan untuk mengobati kesepian ibunya, ia mengatur rencana agar ibunya menyumbang sebagian uang untuk orang-orang yang tidak mampu di sekolahnya. Ibunya terharu dan Trevor berkata, "Teruskanlah kebaikan ini, Ma!"
Perhatian Trevor begitu berkesan di hati ibunya sehingga ibunya pun ingin meneruskan kebaikan itu kepada ibunya, yaitu nenek Trevor. Anak dan ibu ini sudah lama bermusuhan, tetapi ketika si nenek melihat anaknya datang meminta maaf kepadanya, iapun sangat terharu. Ibu Trevor berkata kepada ibutnya, "Teruskanlah kebaikan ini, Ma!"
Si nenek yang merasa bahagia kemudian meneruskan kebaikan itu dengan menolong pemuda yang dikejar segerombolan orang. Ia menyembunyikan pemuda itu di mobilnya. Kepada pemuda itu si nenek berpesan, "Teruskanlah kebaikan ini, Anak Muda!"
Pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, kemudian meneruskan kebaikan tersebut dengan mendahulukan gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dahulu diobati. Ayah si gadis berterima kasih, dan pemuda itupun berkata, "Teruskanlah kebaikan ini, Pak!"
Ayah si gadis kecil meneruskan kebaikan itu dengan meminjamkan mobilnya kepada seorang wartawan televisi yang mobilnya rusak. "Teruskanlah kebaikan ini, Anak Muda!"
Wartawan itu sangat terkesan akan kebaikan ayah si gadis, dan ia berusaha mencari tahu dari mana asal kalimat "Teruskanlah kebaikan ini" tersebut. Dia mulai mencari informasi mundur mulai dari ayah si gadis, sampai ia menemukan Trevor, sang pencetus ide tersebut. Ia berusaha agar Trevor bisa tampil di televisi. Di televisi, Trevor mengajak pemirsa untuk melakukan kebaikan, sehingga dunia ini dipenuhi orang-orang yang saling mengasihi.
Sayang sekali, Trevor ditusuk pisau ketika sedang menolong teman sekolahnya yang diganggu para brandal. Usai penguburan, sang ibu begitu kaget melihat ribuan orang terus berdatangan dan meletakkan bunga tanda duka cita atas kematian Trevor.
Read More..

Saturday, May 22, 2010

KEKUATAN PIKIRAN

Pada tulisan sebelumnya (MENGATASI KETAKUTAN DALAM MEMULAI BISNIS BARU), saya menyinggung betapa besar kekuatan pikiran dalam kehidupan kita. Kata bijak menyatakan: YOU BECOME WHAT YOU THINK. Anda adalah apa yang Anda pikirkan. Pada tulisan lainnya lagi (IKAN YANG PESIMIS) saya juga menyinggung tentang dampak buruk dari pikiran negatif yang bernama pesimis.
Pada kesempatan ini saya ingin menambahkan kedua tulisan tersebut dengan membahas tentang label pada diri sendiri.
Sebagian besar dari kita, karena termasuk pada budaya low profile, tidak biasa atau segan untuk menggambarkan keadaan diri kita yang sebenarnya. Ada orang yang mengaburkan profesi dan organisasi tempatnya bekerja. Ada pula yang meyakini bahwa kita tidak boleh mengucapkan hal-hal yang baik kalau memperkenalkan diri. "Nanti dibilang sombong lagi…", demikian elak kebanyakan orang.
Coba kita ingat-ingat, seberapa sering kita menolak mengakui kesuksesan kita saat dipuji oleh orang lain? "Ah, itu mah kebetulan saja…". Kita tidak sadar atau lupa bahwa melabeli diri kita "apa adanya" atau "biasa saja" akan menjadikan kita tumbuh menjadi orang "biasa saja". Jadi, tidak menonjol dan tidak hebat, tidak memiliki spirit untuk memperbaiki diri.
Label seringkali dibuat oleh orang lain. Namun, bayangkan bila diri kita sendirilah yang membuat lebih banyak label negatif ke diri kita daripada positifnya. Anda dapat membuka tulisan saya yang lain (MEMOTIVASI DIRI SENDIRI) untuk hal ini.
Bagaimana kalau mulai sekarang kita membiasakan diri untuk melabeli diri kita secara positif? Bagaimana kalau kita tak mudah mengeluarkan keluhan dari mulut kita? Bagaimana kalau setiap masalah kita anggap sebagai tantangan? Tanpa terkesan menyombongkan diri, bagaimana kalau kita mengatakan bahwa kita adalah orang yang berdedikasi, result-oriented, berusaha menang dan menyambut setiap tantangan? Kejelasan label ini seketika menumbuhkan respek dari orang lain pada diri kita. Kita pun perlu menyadari bahwa semakin banyak kata yang mengandung tantangan tentang diri kita, semakin pula kita terdorong menjadi apa yang sudah kita gambarkan.
Mana yang akan Anda pilih, kecap tanpa label atau yang berlabel walaupun tidak terlalu terkenal? Sebagai individu kita tentu perlu memikirkan "branding" diri kita sendiri. Kita adalah chief branding officer dari diri kita. Kitalah yang perlu menciptakan sense of distinctiveness (hal ini dapat pula dilihat pada tulisan saya: MENJADI ORANG YANG BERBEDA).
Bagaimana caranya? Tidak terlalu sulit. Kita perlu mendeskripsikan gambaran seperti apakah yang kita ingin tonjolkan dari diri kita, konsep diri kita. Sebagai contoh, Anda yang suka bersosialisasi dapat berkata "saya suka bertemu dengan kawan baru". Mereka yang memiliki kelebihan di bidang tertentu dapat berkata, "saya senang belajar bahasa" atau "saya merasa tertantang bila ada masalah hitung-hitungan yang rumit". Tidak ada alasan untuk memberi label diri yang mengambang, bahkan tidak maju, seolah mengindoktrinasi diri untuk tidak maju. Banyak sekali label positif yang bisa dikenakan pada diri kita yang justru semakin menantang kita untuk berbuat lebih baik.
Read More..

Saturday, April 17, 2010

SEKALI LAGI, TENTANG KEGAGALAN

Failures are divided into two classes: Those who thought and never did and those who did and never thought.
Kegagalan dibagi menjadi dua: Mereka yang memikirkannya tetapi tidak pernah mengalaminya dan mereka yang mengalaminya tetapi tidak pernah memikirkannya.
(John Salack)
Kalau dicerna lebih dalam, ungkapan di atas sangat menarik, terutama golongan pertama. Bahwa mereka yang telah berpikir gagal sebelum memulai tindakan apa-apa digolongkan sebagai orang yang telah gagal. Ini bisa disamakan dengan kalah sebelum berperang. Sebagaimana telah saya kemukakan pada tulisan-tulisan sebelumnya, inti dari kegagalan pertama ini adalah PIKIRAN. Inilah betapa pikiran atau persepsi kita akan berpengaruh pada tindakan kita berikutnya. Dan kegagalan model ini menimpa banyak orang.
Sementara untuk golongan kedua, mereka mengalami gagal, bangkit, gagal lagi, bangkit lagi, dan seterusnya. Tetapi mereka tidak pernah memikirkan kegagalan-kegagalan tersebut. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan sebelumnya dan tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa. Hanya orang bodoh yang tidak mau belajar dari kegagalan.
Pada dasarnya, hidup ini adalah university of failure atau universitas kegagalan. Sebagaimana kita ketahui bersama, pengalaman adalah guru terbaik. Demikian pula kegagalan. Anda yang pernah gagal dalam hal apapun, seharusnyalah menjadikan kegagalan sebagai pengalaman hidup yang paling berharga untuk melangkah menjadi lebih baik dan sukses.
Bangkit dari kegagalan memang bukan perkara mudah. Dibutuhkan niat kuat dan upaya keras. Satu hal yang pasti, sebesar apapun ratapan atau keluhan terhadap kegagalan yang menimpa Anda, itu tidak akan mengubah kondisi Anda. Yang dibutuhkan adalah tindakan untuk segera keluar dari kegagalan karena hidup terus berjalan. Sikap negatif berlebihan, mengeluh terus-menerus, tidak bisa menerima kenyataan, dan putus asa menghadapi kegagalan hanya akan semakin memperburuk keadaan. Tak jarang orang salah dalam menghadapi kegagalan dengan cara mengkonsumsi minuman beralkohol, narkoba, bahkan bunuh diri.
Perlu saya tekankan bahwa mereka yang sukses dalam hal apapun tidak berhasil dari awalnya. Mereka pasti pernah mengalami kegagalan demi kegagalan. Yang terpenting adalah segera bangkit dan mencoba sesuatu yang baru.
Menarik pula kutipan yang saya ambil dari Oliver Gold Smith. Dia selalu berkata: Our greatest glory is not about never falling, but rising every time we fall. Artinya, kemenangan atau kesuksesan terbesar kita bukan karena tidak pernah jatuh, tetapi segera bangkit setiap kali kita jatuh.
Read More..

INDAHNYA KESEDERHANAAN

Keindahan itu sebenarnya sederhana. Pagi ini saya menikmati sarapan dengan secangkir kopi hangat dan dua buah pastel. Nikmatnya luar biasa. Saya raih pegangan cangkir, saya angkat pelan-pelan. Sebelum saya menyeruput, saya nikmati bau harum kopinya. Kemudian bibir saya bersentuhan dengan bibir cangkir yang terasa hangat. Wow… Rasa manis, hangat, pahit berbaur jadi satu bertemu lidah saya. Luar biasa!!!
Saya juga menyaksikan seekor cicak yang sedang kasmaran mengejar betinanya. Saya jadi teringat bagaimana saya kasmaran dulu dan mengejar betinaku, eh pacarku (sekarang sudah mantan pacar). Indah sekali.
Pernahkah Anda menikmati keindahan dalam kesederhanaan seperti itu? Pernahkah Anda mensyukuri apapun yang Anda miliki saat ini?
Kita biasanya hanya berpuas diri pada kesuksesan, keberhasilan yang hingar bingar, keuntungan yang berlimpah. Kita sering lupa menikmati keindahan pada hal-hal yang sederhana.
Kita tentu saja ingat betapa enaknya mie ayam tempat kita SMA dulu. Murah, gurih, nikmati, dan penuh keceriaan. Makanan terenak adalah makanan di dekat sekolah kita dulu. Kita dapat menyaksikan etapa lucunya anak-anak kecil bermain di kebun binatang, tak peduli betapapun baunya kotoran kuda disana. Adakah hal-hal kecil ini membuat Anda bahagia? Apakah “inner joy” Anda bersorak sorai, ataukah sudah tidak ada lagi “keceriaan nurani” ini di dalam kehidupan Anda?
Kehidupan bukanlah hanya berisi sederetan rekor kesuksesan dan tonggak-tonggak sejarah, tetapi juga berisi rentetan kesederhanaan yang indah dan penuh arti.
Kenikmatan itu murah, kalau kita tau bagaimana cara menikmati hidup ini. Kita tidak perlu tersandera oleh dogma kehidupan yang harus mendewakan harta dan materi. Tapi merasakan rasa indah dalam kesederhanaan yang ada.
Mungkin telah terjadi tujuh puluh dua hal kecil yang indah yang anda lalui hari ini, tetapi mata anda tertutup pada satu proyek yang tidak juga goal itu... Mengapa tidak mencoba mebuka mata kita? Kita bagaikan orang yang berada di dalam bus yang melewati jalan-jalan yang luar biasa indah pemandangannya, tetapi kita tutup gorden penutup jendela bus, sehingga apapun tidak terlihat dari dalam.
Rasakan apapun yang Anda lalui, karena hidup ini cuma perjalanan saja. Dan bagaimana kita memilih cara kita memandang hidup ini, adalah hak kita sendiri. Cobalah menikmati kesederhanaan keindahan itu dan menjalani dengan penuh rasa.
Semoga ini dapat menggugah Anda untuk lebih mengenali lagi keindahan kecil yang anda lalui dan sering lupakan dalam hidup anda.
Read More..

TGIM versus TGIF

“Everyday is Monday (not Sunday, as before) in Jogja”

Pernahkah (atau seringkah) Anda merasa bahwa hari Senin adalah hari yang membosankan? Senin lagi, Senin lagi. Libur belum puas, sudah harus bekerja lagi. Capek deeh…
Hari Senin merupakan awal hari kerja dalam seminggu. Mereka yang gila kerja atau sangat mencintai pekerjaannya menginginkankan Senin segera datang, sehingga bisa beraktivitas lagi. Liburan membuat mereka lelah dan malas, terlena dan tertidur saja.
Mereka berprinsip: Thanks God It’s Monday (TGIM). Adrenalin mereka mengalir lagi menginjak hari Senin. Tantangan pekerjaan mengaktifkan seluruh sel-sel di tubuhnya untuk bekerja, bersaing, berjuang dan bergelora kembali.
Yang paling eksrim dari golongan ini adalah workaholic. Mereka tidak lagi memikirkan liburan, karena hari Sabtu dan Minggu pun bekerja penuh. Mereka tidak peduli hari Senin atau Jumat.
Di sisi lain, orang-orang yang bosan bekerja memiliki semboyan: TGIF, Thanks God It’s Friday. Jumat sore adalah masa yang paling ditunggu karena hari Sabtu dan Minggu mereka berlibur. Mereka berpendapat bahwa liburan adalah kenikmatan luar biasa untuk melupakan stress dan tekanan pekerjaan. Mereka harus menikmatinya. Mereka berkata: Memang badan ini robot? Bekerja tidak ada habisnya.
Termasuk golongan manakah Anda? Saya bertaruh sebagian besar dari kita memilih TGIF. Orang lebih menyukai relaksasi, lebih suka liburan, dan kemalasan. Ini kan kodrat manusia. Betul?
Inilah salah satu yang membedakan bangsa timur dan barat yang menyebabkan kita tertinggal dari mereka. Berapa hari libur dalam setahun di negeri ini? Bandingkan dengan hari libur di negara-negara lain. Kita melihat pekerjaan sebagai beban, mereka mensyukurinya. Ada sebagian dari kita yang belum menyadari: Bagaimana kita bisa hidup tanpa bekerja? Lebih jauh lagi, bagaimana bisa sukses dalam hidup kalau lebih senang liburan daripada bekerja?
Orang Jogja, termasuk saya, tentu tidak asing dengan kalimat dagadu berikut: Everyday is Sunday in Jogja.
Sedemikian lemot-kah Jogja? Kita harus mengubah paradigma ini. Kita harus menunjukkan bahwa Jogja adalah kota yang bersemangat, sehingga cap bahwa ‘setiap hari adalah hari libur di Jogja’ dapat kita hilangkan. Caranya? It starts from ME.
Dari mereka yang sukses, terlebih para entrepreneur, banyak yang awalnya membangun usaha mereka dengan menjadi workaholic, berkarya tanpa henti, siang dan malam, tak kenal waktu. Mereka baru memikirkan liburan ketika usaha mereka sudah benar-benar mapan.
Jadi yang terbaik menurut saya adalah menyeimbangkan antara TGIM dan TGIF. Saya sengaja meletakkan TGIM di depan, dengan harapan agar kita lebih memprioritaskan TGIM daripada TGIF sehingga masing-masing kita bisa menjadi pekerja keras, yang pada akhirnya akan membawa bangsa ini menjadi pekerja keras juga, sehingga tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain. Macan Asia harus kita bangkitkan.
Jika kita telah menjadi bangsa yang pekerja keras, tidak lemot alias letoy, maka kita tak akan pernah takut menghadapi persaingan dari negara manapun, termasuk AC-FTA. Kita tidak perlu meratap, mengeluh, mengemis seperti yang dilakukan oleh segelintir pecundang. Kita harus menjadi pemenang. We must be a winner, not a losser. Kita harus menumbuhkan dan menggelorakan ungkapan Julius Caesar: VENI, VIDI, VICI (Aku Datang, Aku Lihat, Aku Menang).
Read More..

Tuesday, February 9, 2010

BEDA ANTARA BERSYUKUR DAN MENERIMA APA ADANYA

Menerima apa adanya atau pasrah begitu saja tidak termasuk dalam sikap positif. Bahkan bersyukur dalam arti yang sebenarnya sangat berbeda dengan sikap pasrah atau menerima apa adanya ini. Bersyukur adalah berterima kasih atas kebaikan atau prestasi atau manfaat yang dicapai atau diberikan Tuhan. Contohnya begini. Saya bersyukur karena diberi tangan yang lengkap dan utuh oleh Tuhan. Apakah cukup sampai disini? Tentu saja tidak. Apa bisa disebut bersyukur kalau tangan yang diberi tersebut tidak saya manfaatkan? Atau dimanfaatkan untuk keburukan? Inilah bedanya antara menerima apa adanya dan bersyukur.
Mengupayakan tercapainya yang terbaik adalah sikap orang yang mensyukuri apapun yang telah ada pada dirinya. Ini berlaku untuk semua hal, baik di dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dunia kerja, pendidikan, dan sebagainya. Ini sama dengan memaksimalkan apapun yang ada pada diri kita. Inilah arti bersyukur yang sebenarnya.
Banyak manfaat yang dapat kita petik dari rasa syukur kita terhadap apa yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Bersyukur menjadikan kita merasa cukup. Dan merasa cukup ini adalah sikap positif yang dapat membentengi kita untuk tidak menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan kita. Sebaliknya, merasa tidak cukup atau kurang dapat mendorong seseorang untuk berbuat curang. Korupsi adalah contohnya. Yang perlu saya tekankan pada poin ini adalah bahwa merasa cukup tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha lebih jauh lagi.
Bersyukur juga menjadikan kita rendah hati dan tidak sombong. Dengan bersyukur berarti kita menyadari bahwa bukan kita, melainkan Tuhan, yang memiliki kuasa penuh terhadap apapun yang kita lakukan. Sebagai makhluk-Nya, kita hanya bisa berusaha dan berusaha dan hasil akhirnya bukan urusan kita lagi.
Selain itu, bersyukur menciptakan rasa riang gembira. Bukankah aneh kalau kita mengucapkan terima kasih atau syukur dengan wajah dilipat-lipat alias cemberut? Perasaan gembira akan mendorong kita menjalani hidup lebih optimis dan pada akhirnya akan menjadikan kita bahagia.
Itulah beberapa manfaat dari syukur. Alangkah indahnya jika setiap bangun pagi, ketika badan dan pikiran masih terasa segar, kita mengawali hari dengan bersyukur atas kenikmatan yang diberikan dengan bersikap positif memandang hari itu.
Read More..

Sunday, December 6, 2009

MENGABAIKAN SKEPTISME ORANG LAIN

Ketika seseorang mendapatkan pekerjaan baru atau memulai usaha baru, tak jarang orang lain berkomentar negatif atau bersikap skeptis terhadapnya. Skeptisme ini, terutama yang berasal dari orang-orang terdekat seperti suami, istri, ibu, anggota keluarga, atau teman baik, kadang-kadang begitu besarnya sehingga menghambat langkah maju seseorang.
Alasan Anda menerima pekerjaan baru atau memulai bisnis baru tersebut diantaranya:
Satu, Anda benar-benar menyukainya dan berharap senang menjalankannya. Kedua, peluang itu sangat besar dan Anda berharap dapat memperoleh uang atau pengalaman yang Anda butuhkan. Ketiga, Anda berpikir bahwa pekerjaan atau bisnis tersebut akan mendekatkan Anda untuk menggapai mimpi Anda.
Orang-orang yang skeptis atau meragukan kemampuan Anda adalah orang yang pekerjaannya menjadikan Anda merasa bodoh, tidak cocok, atau tidak mampu dalam membuat keputusan. Mereka menyarankan pekerjaan yang lebih baik menurut mereka, memberikan contoh orang-orang yang gagal, mengolok-olok keputusan Anda, dan menertawakan hasil yang diharapkan. Orang-orang seperti ini adalah orang yang harus dihindari tanpa kompromi.
Mengapa mereka tidak memberikan dorongan pada Anda? Atau mendukung Anda? Atau bertanya apakah mereka dapat membantu Anda sukses? Atau sekedar berkata, “Saatnya melangkah!”
Ada beberapa hal yang menyebabkan sikap skeptis mereka, diantaranya:
- Citra diri mereka terbatas
- Harga diri mereka rendah
- Cemburu
- Iri hati
Mereka tidak mampu memberikan dorongan karena mereka lebih suka melihat Anda sebagai seorang pecundang (layaknya mereka).
Jadi, hal pertama yang perlu Anda pikirkan ketika seseorang bersikap skeptis pada Anda adalah bersikap tenang dan berpikir positif. Selain itu, jadilah teladan dan jadikan skeptisme mereka sebagai cambuk untuk lebih baik dari mereka dalam segala hal. Anda juga perlu berteman dengan orang-orang sukses, mereka yang memberi inspirasi, mereka yang memberikan dorongan. Terakhir, jangan membicarakan apa yang akan Anda kerjakan. Kerjakan saja.
Dari semua itu, dapat disimpulkan bahwa satu-satunya penangkal terhadap orang yang skeptis adalah pembuktian kesuksesan Anda. Jadi, abaikan saja mereka. Keluarkan kemampuan terbaik Anda untuk Anda sendiri, bukan untuk mereka. Mereka tidak penting.
Read More..

Friday, November 27, 2009

MENJADI ORANG YANG BERBEDA

Pemimpin atau wirausaha bukanlah orang yang mudah cocok, kecuali dalam hal ketaatan mereka terhadap nilai inti. Namun dalam bisnis, banyak orang berpegang teguh pada pola yang mereka percayai, yaitu terhadap mayoritas yang dianggap prasyarat bagi persetujuan dan keberhasilan. Dengan anggapan ini, maka bisnis menjadi mangsa mitos mendasar – bahwa mayoritas secara otomatis dan tanpa terkecuali selalu benar. Namun mayoritas tidaklah maha tahu semata-mata hanya karena dia adalah mayoritas. Bahkan orang yang mengabaikan pendapat sebenarnya mendatangkan keberhasilan yang lebih kreatif.
Karena anggapan mayoritas ini pula, seringkali kita mematikan ide-ide dan pemikiran brilian. Memang mereka yang mengikuti kata hatinya awalnya selalu disalahmengerti, bahkan difitnah, sebelum akhirnya dipuji dan meninggalkan prestasi. Mereka dibimbing oleh apa yang benar bagi mereka, bukan apa yang benar bagi masyarakat. Meniru tanpa banyak tanya mereka yang mengikuti jalur buatan yang membuat kita yakin sebagai satu-satunya jalan, telah mengabaikan individualitas kita.
Para peraih dunia bisnis yang inovatif dan lapar akan informasi akan senantiasa melanjutkan sikap yang berbeda/unik. Mereka tidak terbawa arus, mereka berpakaian dan berperilaku tanpa mempedulikan apakah konvensional ataukah tidak karena dengan cara itulah mereka merasa nyaman. Bukan untuk menjadi terkenal atau diberi label penentang. Itu hanyalah cara mereka untuk menjadi diri sendiri. Menjadi berbeda adalah memiliki keberanian untuk berkata 'tidak' terhadap sesuatu karena hal itu bertentangan dengan jalan mereka, bahkan ketika mayoritas memberikan pernyataan 'ya' untuk hal yang sama.
Read More..

Saturday, November 21, 2009

KEJUJURAN

Kebiasaan hidup kita itu akan membentuk karakter diri kita sendiri dan sangat menentukan siapa diri kita di masa depan. Kejujuran merupakan sikap positif yang perlu ditanamkan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, di bidang apapun. Kejujuran merupakan salah satu resep suksesnya kehidupan kita. Kejujuran menjadikan kita pribadi yang matang dan tidak memiliki ganjalan hati. Sebaliknya, ketidakjujuran atau kebohongan adalah penyakit hati yang harus dibuang jauh-jauh karena efek dari kebiasaan berbohong ini sungguh sangat besar.
Saya ingat dengan satu ungkapan menarik yang mengatakan bahwa ketika kita berbohong 1 kali, itu sama artinya kita telah berbohong 11 kali. Ini terjadi karena kebohongan yang pertama akan ditutupi dengan kebohongan-kebohongan berikutnya. Contohnya begini. Seorang ayah bertanya kepada anaknya:
Ayah : Nak, dari mana saja kamu, kok jam segini baru pulang?
Anak : Dari mengerjakan tugas kelompok, Pa. (Padahal ia bermain PS) (Bohong 1)
Ayah : Tugas apa yang kamu kerjakan?
Anak : Bahasa Inggris, Pa. (Bohong 2)
Ayah : Di rumah siapa?
Anak : Di rumah Anu, Pa. (Bohong 3)
Dan seterusnya…
Ada kisah menarik tentang kejujuran dan kebohongan ini. Alkisah tersebutlah seorang pengusaha kaya raya yang memiliki 2 orang anak yang tinggal di 2 desa yang berbeda. Karena dia bingung menentukan siapa yang akan meneruskan bisnisnya, dia memanggil kedua anaknya dan berkata: "Anak-anakku, saya akan memberi kalian masing-masing 1 bakul benih padi. Pergilah ke desa kalian masing-masing dan tanamlah benih padi wasiat keluarga ini. Setahun dari sekarang, bawalah hasilnya kesini. Siapa yang membawa hasil lebih banyak akan saya beri hadiah."
Kedua orang inipun pulang ke desa masing-masing. Selang setahun kemudian, kedua orang ini kembali ke rumah ayahnya.
Dari kejauhan ayahnya melihat yang sulung membawa padi yang banyak sekali. Sedang yang bungsu tidak membawa padi sebijipun.
Maka sang ayah tahu bahwa anak yang tidak membawa apa-apa inilah yang jujur. Sehingga si bungsu ini tidak hanya mendapat hadiah, tapi seluruh kekayaan sang ayah diberikan semua kepadanya. Sang sulung sempat bingung, kenapa si bungsu yang mendapat hadiah padahal dia yang malah membawa padi lebih banyak.
Sang ayah menjawab, "Padi yang saya berikan dulu adalah padi yang sudah masak. Jadi tidaklah mungkin bisa ditanam dan tumbuh. Kalau kamu ingin menjadi orang besar dan sukses, kamu harus jujur kepada dirimu sendiri, jujur kepada pelangganmu, jujur kepada siapapun."
Read More..

Saturday, November 14, 2009

THE POWER OF KEPEPET

Anda pernah berada pada posisi kepepet atau terdesak? Apa yang Anda lakukan? Saya sendiri pernah dan beberapa kali berada pada posisi kepepet. Dari pengalaman kepepet yang saya alami, saya dapat menarik kesimpulan bahwa posisi kepepet atau terjepit atau terdesak memiliki daya penggerak positif yang luar biasa.
Kepepet hanya memberi dua pilihan pada kita: menang atau kalah. Menurut ilmu psikologi, justru posisi kepepet ini mempunyai kekuatan yang besar yang membuat kita melakukan hal-hal yang luar biasa yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Kita berjuang mati-matian dalam posisi kepepet, karena tak ada pilihan lain. Kepepet memberikan semangat, energi dan kekuatan untuk maju dan mengalahkan rintangan.
Ada kisah menarik yang pernah saya baca tentang betapa hebatnya kekuatan dari keterdesakan ini. Suatu ketika sekelompok pasukan yang berada di atas satu kapal terkepung oleh kapal-kapal pasukan musuh. Karena melihat kekuatan yang tidak berimbang, beberapa anggota pasukan meminta pemimpin mereka untuk menyerah. Ada pula yang meminta pemimpin untuk melarikan diri. Apa yang dilakukan oleh sang pemimpin? Dia meminta semua pasukannya keluar dari kapal dan membakar kapalnya. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi pasukan tersebut kecuali menang atau mati. Tindakan pemimpin ini memicu semangat yang luar biasa pada semua anggota serdadu, sehingga mereka berjuang mati-matian penuh semangat untuk mengalahkan musuhnya.
Dari kejadian ini, kita dapat memetik dua pelajaran penting sekaligus. Pertama, kepepet memicu semangat luar biasa untuk mengalahkan rintangan. Kedua, kepepet menjadikan kita berfokus pada satu hal. Dan fokus ini akan menjadikan seseorang berpikir lebih jernih dan berusaha maksimal untuk menggapai sukses.
Read More..

PERTAMA, TERBAIK, DAN TERUNIK

Ketiga kata di atas saya ambil dari ungkapan/frase yang agak panjang, begini bunyinya: "Berusahalah sekeras mungkin sehingga Anda bisa menjadi yang pertama atau pelopor. Kalau yang pertama sudah ada, cobalah menjadi yang terbaik. Kalau yang pertama dan terbaik sudah ada, cobalah menjadi yang terunik."
Kalau dicermati lebih dalam, ungkapan di atas sangat menarik. Konsep ini bisa dijalankan dalam bidang apapun dan dimanapun, baik ketika masih bersekolah, berperilaku, bekerja, berbisnis, dan lain sebagainya. Dua kata pertama (pertama dan terbaik) tak perlu lagi disanggah kebenarannya. Bagaimana dengan kata ketiga yaitu terunik? Terunik atau lain dari yang lain merupakan konsep yang sekarang ini semakin gencar dibicarakan dan diupayakan.
Dalam dunia bisnis, konsep yang disebut differentiation ini telah lama dikenal. Sebuah bisnis atau entitas perlu membedakan produk, jasa atau organisasi secara keseluruhan sehingga mudah dikenal oleh pelanggan atau klien.
Menjadi yang terunik memang bukan perkara gampang. Diperlukan sudut pandang yang berbeda atau bahkan nyleneh dari pakem-pakem yang telah ada. Selain itu, keunikan juga menuntut daya inovasi dan kreativitas yang tinggi.
Keinginan kuat untuk menjadi unik dan didukung upaya keras dan konsistensi dapat mendorong seseorang untuk melewati dua kata sebelumnya, pertama dan terbaik. Sehingga tidak jarang bahkan mereka yang terunik adalah sekaligus yang pertama dan terbaik.
Dalam pengembangan diri pribadi, keunikan bisa berupa kerendahan hati, sikap optimis, suka menolong orang lain, sikap positif, kerja keras, dan masih banyak lagi. Keunikan diri yang digali lebih dalam dan dipraktekkan secara konsisten akan menjadikan seseorang sukses.
Read More..

Sunday, November 1, 2009

MENGATASI KETAKUTAN DALAM MEMULAI BISNIS BARU

Seperti telah saya kemukakan pada tulisan sebelumnya (Memulai Bisnis Baru) , salah satu penghalang terbesar di dalam memulai bisnis atau usaha baru adalah ketakutan atau kekhawatiran. Ketakutan ini menjadikan seseorang menjadi "kalah sebelum bertanding". Mereka merasa ditakdirkan untuk kalah sehingga tidak punya keyakinan menang. Terlalu banyak ketakutan yang ada dalam pikiran mereka, misalnya:

Bagaimana kalau saya tidak mampu menciptakan produk atau jasa yang diinginkan konsumen?
Bagaimana kalau dagangan saya tidak laku?
Kalau bisnis saya merugi, bagaimana nasib anak dan istri saya?
Dari mana saya mendapatkan modal?
Bagaimana komentar teman-teman kalau saya membuka usaha ini?


Daftar pertanyaan pesimistik ini bisa diperpanjang menjadi ratusan halaman. Intinya bukan terletak pada aspek-aspek teknis yang menjadi isi pertanyaan itu. Intinya terletak pada diri sang calon enterpreneur itu sendiri. Enterpreneur sejati yang bermental pemenang telah menyiapkan jawaban-jawaban bagi mereka sendiri. Sedangkan yang bermental pesimistik biasanya mengharapkan jawaban-jawaban dari orang lain.
Kalau dicermati lebih mendalam, segala ketakutan itu berpusat pada satu hal, yaitu resiko kegagalan. Seringkali kita bersikap sangat konservatif terhadap resiko yang berkaitan dengan uang. Tapi tak jarang diantara kita yang tak segan mengambil resiko yang berkaitan dengan nyawa mereka sendiri. Diantara mereka yang enggan berbisnis karena takut merugi, ada yang punya kebiasaan ngebut di jalanan. Lucu bukan? Takut kehilangan uang karena gagal berbisnis, tetapi tidak takut kehilangan nyawa di jalanan?

Kita bisa menganalisis ketakutan untuk berbisnis itu dari berbagai sudut pandang, terutama psikologi dan budaya. Dari sisi psikologi, pesimisme itu mencerminkan adanya inferiority complex. Mereka merasa inferior, tidak berarti, kecil, miskin, tidak berguna bagi orang lain, dan seterusnya. Masalah di balik inferiority complex yang harus segera diatasi adalah rendahnya kepercayaan diri (self-confidence).

Masalah ini bisa diatasi dengan mengubah sudut pandang Anda terhadap bisnis itu sendiri. Jangan merasa terhina kalau Anda harus berjualan sesuatu, atau harus merintis bisnis pada suatu bidang. Justru itu harus dipahami sebagai "panggilan" untuk memainkan peran Anda lebih baik dalam kehidupan ini.

Dari sisi kultural, masyarakat kita memang belum terkategori sebagai enterpreneur society atau masyarakat wirausahawan. Masyarakat kita masih bercorak masyarakat ambtenaar, dimana penghormatan sosial tertinggi diberikan kepada pegawai negeri. Lihat saja fenomena pendaftaran untuk menjadi pegawai negeri. Peminatnya membludak. Bahkan, ada yang rela membayar Rp 50 juta hanya untuk menjadi seorang pegawai negeri. Kalangan pengusaha dianggap sebagai orang yang hanya peduli pada keuntungan finansial, dan karena itu mereka dianggap lebih rendah kastanya ketimbang pegawa negeri atau priyayi.
Akan tetapi, zaman telah berubah. Tak selamanya corak masyarakat ambteenar dapat bertahan. Era informasi memberi kontribusi nyata untuk mengangkat citra kalangan pebisnis. Di kota-kota besar, pengusaha telah menjadi cita-cita lebih banyak anak usia sekolah. Kisah sukses pengusaha-pengusaha besar dibaca dengan kagum.

Di masa depan ukuran kesejahteraan manusia buakn lagi tergantung pada berapa penghasilan seseorang, tapi waktu luang yang Anda nikmati bagi keluarga Anda. Anda akan lebih bebas menyalurkan minat dan kesenangan Anda, lebih leluasa mendampingi anggota keluarga, dan semakin berbahagia. Dan jalur tercepat menuju ke arah itu adalah melalui bisnis.

Memang, banyak orang akan mencibir ketika mendengar ide Anda untuk memulai bisnis sendiri. Mereka berpendapat, teori sih gampang tapi prakteknya bukan main sulitnya. Cibiran ini ada benarnya juga. Memang bisnis selalu tidak semudah memikirkannya. Namun bukankah berpikir itu sendiri sudah menjadi tahap awal untuk memulai bisnis?
Setiap orang pasti mempunyai beberapa keahlian. Bagaimana melihatnya? Pertama, kenali diri sendiri. Kedua, sadari bahwa setiap pekerjaan selalu ada tiga domain: manusia, data dan peralatan. Tinggal pilih, Anda ada dimana? Kunci penting lainnya adalah menyenangi apa yang dilakukan, betapapun beratnya.

Seperti juga telah saya kemukakan pada tulisan tentang ikan yang pesimis, berikut ada contoh lain betapa cara kita berpikir akan sangat berpengaruh pada cara kita bertindak. Gede Prama pernah berkisah tentang anak burung elang yang diasuh oleh induk ayam. Apa yang terjadi? Si anak elang ini tidak bisa terbang karena dalam pikirannya ia adalah seekor anak ayam. Ya, pikiran dapat mendeterminasi hasil dari serangkaian tindakan.

Anda masih tidak percaya? Coba buktikan tips kecil berikut ini. Mintalah seorang teman Anda berdiri tegak dan memejamkan mata di depan Anda. Kemudian mintalah dia mengangkat lurus kedua tangannya ke samping setinggi pundak . Setelah itu, mintalah teman Anda untuk berkonsentrasi pada kata "LEMAH". Coba Anda turunkan kedua tangan orang itu. Dia akan menurunkan tangannya dengan ringan.

Sekarang, ulangi lagi dan minta ia berkonsentrasi pada kata "KUAT". Coba lagi Anda turunkan kedua tangan orang itu. Apa yang terjadi? Semakin kuat Anda menurunkan tangannya, semakin kuat pula ia akan bertahan.
DUA KATA SEDERHANA – DUA HASIL YANG SANGAT BERBEDA!

Jika kata begitu kuat pengaruhnya, pikirkanlah apa yang akan terjadi jika Anda menyebut diri sendiri "bodoh" atau yang lebih buruk lagi.
Semoga bermanfaat...
Read More..

Wednesday, October 28, 2009

MEMPERTAHANKAN SIKAP POSITIF

Melanjutkan tulisan saya terdahulu, kini saya akan membahas betapa hebatnya sikap negatif mempengaruhi kehidupan kita.
Mempertahankan sikap positif sangat penting bagi kesuksesan, dan sikap negatif merupakan salah satu tantangan terbesar yang harus kita atasi. Keraguan diri dan kurangnya kepercayaan diri adalah racun bagi siapapun yang mengupayakan kesuksesan. Seseorang tidak akan bisa sukses dalam jangka panjang jika selama bertahun-tahun otak mereka telah memuat hal-hal negatif dengan sedikit masukan positif untuk mempertahankan diri dari pengaruh negatif.
Seorang pemikir yang negatif akan kurang percaya diri untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai sukses. Tujuan pertama yang perlu kita tetapkan adalah mengurangi pengaruh negatif dan membangun sikap positif. Adalah penting untuk mengurangi pengaruh negatif di dalam kehidupan dengan masukan-masukan positif. Karena bagian bawah sadar dari otak jauh lebih kuat daripada komputer manapun yang pernah ditemukan, maka otak tidak dapat menghapus apa yang pernah dilihat, didengar, dan dicium di dalam kehidupan; semua itu tercetak dan membekas selamanya.
Melakukan upaya untuk menutup telinga dari pengaruh negatif, dan memilih untuk tidak membaca atau mendengarkan masukan-masukan negatif, sambil menambahkan masukan-masukan positif, akan mulai mengurangi hal-hal negatif di masa lalu dan menciptakan satu kondisi mental yang kondusif terhadap kesuksesan. Mereka yang sukses di bidang apapun akan mengupayakan kinerja tinggi secara mental, fisik, emosional, dan spiritual. Mengalahkan hal-hal negatif adalah tujuan utama bagi mereka yang sukses.
Read More..

Sunday, October 25, 2009

LAKUKAN LEBIH BANYAK

Jika Anda hanya punya satu anak panah untuk dilempar ke sasaran (dartboard), berapa kesempatan Anda untuk mencapai sasaran utama? Sangat kecil, bukan? Jika Anda memiliki 100 anak panah untuk dilemparkan ke dartboard tersebut, maka dapat dipastikan paling tidak lebih dari satu anak panah yang mengenai sasaran, meski Anda seorang yang bodoh sekalipun.
Sukses pun sesederhana itu. Lakukan lebih banyak maka Anda akan sukses! Itu sebabnya ciri-ciri orang sukses adalah mengalami kegagalan lebih banyak dibandingkan dengan orang biasa. Masuk akal, karena orang sukses juga mencoba dan melakukan jauh lebih banyak dari orang biasa. Jika Anda melakukan semakin banyak, maka semakin besar pula peluang Anda untuk meraih sukses.
Kegagalan bukan dianggap sebagai akhir dari segalanya, bahkan dianggap sebagai sukses yang tertunda. Yang terpenting, mereka selalu belajar dari kegagalan sehingga tidak mengulanginya lagi di kemudian hari.
Sebagai contoh, orang asuransi sangat akrab dengan istilah 10:3:1 yang artinya jika seorang agen tersebut bertemu dengan 10 orang, maka 3 orang akan tertarik mendengar presentasinya dan 1 orang bakal membeli asuransi. Apa yang harus dilakukan supaya bisa mendapatkan 5 nasabah? Tawarkan saja kepada 50 orang, maka menurut hukum rata-rata kita pasti mendapat 5 nasabah.
Masalahnya, banyak orang tidak mau melakukan lebih banyak. Tidak mau mencoba lebih sering. Atau, jika Anda seorang sales, Anda tidak mau menawarkan ke lebih banyak orang. Coba Anda amati orang-orang sukses bekerja, maka Anda akan tahu bahwa mereka selalu lebih rajin dari orang biasa.
Jadi, lemparkan anak panah lebih banyak maka semakin besar juga peluang Anda mengenai sasaran. Semakin sering Anda mencoba, semakin besar juga kemungkinan Anda untuk berhasil.
Read More..

IKAN YANG PESIMIS

Suatu kali, seorang peneliti melakukan percobaan dengan ikan untuk mengetahui apakah hewan berdarah dingin bisa kehilangan kepercayaan diri! Kemudian, dia menyediakan sebuah kotak yang tidak terlalu besar dan diisinya dengan air. Di tengah kotak tersebut diberi pembatas berupa sebuah kaca bening. Di salah satu sisi dimasukkan ikan yang relatif besar dan sangat kelaparan. Dan di sisi lainnya dimasukkan beberapa ekor ikan kecil yang cukup untuk dimakan oleh si ikan besar.
Karena sudah sangat kelaparan, ikan besar itu langsung dengan beringasnya berenang dengan penuh semangat untuk melahap ikan-ikan kecil itu. Namun apa yang terjadi? Anda pasti sudah dapat menduganya. Setiap kali ikan besar itu berenang menghampiri mangsanya, setiap kali itu pula dia menabrak dinding kaca pembatas.
Namun rasa lapar yang amat sangat memaksanya untuk terus mencoba, sampai akhirnya dia menghentikan usahanya yang sia-sia tersebut. Dan….menyerahlah dia. Percobaan dilanjutkan. Kali ini kaca pembatas yang ada di tengah-tengah air tersebut diambil. Sekarang apa yang terjadi? Ajaib!!! Dengan leluasa ikan-ikan kecil itu dapat berenang tanpa rasa takut. Bahkan ikan-ikan kecil itu sampai mendekati dan menyentuh sirip atau insang si ikan besar. Tetapi si ikan besar itu tetap diam dan tidak bergerak sedikitpun. Sebenarnya, bisa saja ikan besar melahap ikan-ikan kecil itu, tetapi dia hanya diam saja. Karena dia telah menyerah, pasrah dengan asumsi bahwa apapun yang diperbuatnya pasti ujung-ujungnya gagal juga dan mungkin sekarang bukan saatnya untuk menyantap mangsa walaupun sebenarnya dia punya kesempatan.
Banyak orang mempunyai kesempatan, namun selalu berpikir bahwa rintangannya terlalu banyak dan tidak mungkin dapat teratasi. Di sisi lain, dia juga tidak berbuat apapun untuk memperjuangkan hidupnya sehingga menciptakan sikap menyerah. Sama seperti si ikan besar yang akhirnya menyerah, pasrah. Seorang yang pesimis adalah orang yang mudah menyerah dan bersikap masa bodoh.
Read More..

PRINSIP 90/10

Prinsip 90/10 ini dapat merubah hidup Anda (setidaknya merupakan jalan bagaimana Anda bereaksi terhadap segala situasi).
Apakah yang dimaksud prinsip 90/10? Prinsip ini menyatakan bahwa 10% dari hidup kita terdiri dari apa yang terjadi terhadap kita, dan 90% dari hidup kita ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi terhadapnya.
Apa artinya ini? Kita benar-benar tidak punya kendali atas 10% dari apa yang terjadi terhadap kita. Kita tidak bisa menghentikan mobil dari kecelakaan atau pesawat datang terlambat, padahal sudah mengikuti jadwal yang telah ditetapkan. Pengemudi kadang memotong jalur kita saat berlalu lintas. Selebihnya 90% adalah kondisi yang berbeda, justru kitalah yang paling menentukannya. Bagaimana? Yaitu dengan reaksi kita.
Anda tidak bisa mengendalikan suatu lampu lalu lintas, tetapi Anda dapat mengendalikan reaksi Anda. Jangan biarkan orang-orang mengelabuhi Anda, tetapi Anda dapat mengendalikan bagaimana Anda bereaksi.
Mari kita gunakan sebuah contoh. Suatu pagi, Anda sedang sarapan dengan keluarga Anda. Secara tidak sengaja, putri Anda menyenggol dan menumpahkan secangkir kopi ke atas baju kerja Anda. Anda tidak punya kendali atas apa yang baru saja terjadi, bukan? Apa yang terjadi berikutnya akan ditentukan oleh bagaimana Anda bereaksi.
Jika reaksi Anda marah, kita lihat akibatnya. Anda akan mengomeli putri Anda untuk menggunakan penutup cangkir. Dia mulai menangis. Setelah mengomelinya, Anda berbalik ke istri Anda dan mengkritiknya karena menempatkan cangkir di tepi meja. Berikutnya akan terjadi adu mulut dengan istri Anda. Anda sambil menggerutu menuju lantai atas dan mengganti kemeja Anda. Kembali ke lantai bawah, Anda dapati putri Anda tengah sibuk menghabiskan sarapannya dan bersiap untuk berangkat sekolah. Tetapi ia ketinggalan jemputan.
Istri Anda juga harus segera berangkat kerja. Selanjutnya Anda segera berangkat kerja dan mengemudikan kendaraan dengan mengebut karena Anda harus mengantarkan putri Anda dulu ke sekolahnya. Karena Anda tahu bahwa Anda pasti terlambat, Anda mengemudi dengan melebihi batas aturan kecepatan di jalan raya. Selanjutnya pasti bisa ditebak, Anda diberhentikan oleh polisi dan menilang Anda.
Setelah 15 menit tertunda karena proses tilang, Anda harus membayar tilang sebesar Rp 100.000 kepada polisi tersebut dan segera pergi meninggalkannya. Anda tiba di sekolah. Putri Anda segera melompat dan berlari ke sekolahnya tanpa berpamitan kepada Anda karena kesal telah Anda marahi. Akhirnya Anda sendiri datang di kantor terlambat 20 menit dan Anda baru sadar bahwa Anda ketinggalan tas kantor. Hari Anda berubah menjadi hari yang paling menjengkelkan. Anda tidak betah melakukan pekerjaan seharian karena kejadian yang baru saja Anda alami. Karena Anda masih kesal, maka pekerjaan yang sebenarnya ringan untuk diselesaikan dalam sehari akan berubah seketika menjadi pekerjaan yang sulit untuk diselesaikan dan Anda berharap segera pulang ke rumah.
Ketika Anda sampai ke rumah, Anda mendapati bahwa ada sedikit kerenggangan hubungan antara Anda dengan putri dan istri Anda. Mengapa? Karena reaksi Anda atas peristiwa tadi pagi!
Mengapa Anda mengalami hari yang menjengkelkan? Apakah kopi yang menyebabkannya? Ataukah putri Anda? Ataukah polisi? Ataukah Anda sendiri yang menyebabkannya? Jawaban yang terakhirlah jawabannya.
Bagaimana kalau reaksi Anda tidak marah? Kopi tumpah ke atas kemeja Anda. Putri Anda minta maaf dan dia menangis. Anda dengan lemah lembut mengatakan, “Tidak apa-apa sayang. Lain kali hati-hati ya! Papa gak apa-apak kok… Lalu Anda mengambil handuk menuju lantai atas. Setelah ganti kemeja dan mengambil tas kerja, Anda turun dan melalui jendela melihat putri Anda sudah mendapatkan angkutan dan dia membalikkan badan sambil melambaikan tangannya kepada Anda. Anda datang ke kantor 5 menit lebih awal dan dengan gembira menyampaikan salam kepada staf lainnya. Boss Anda akan menafsirkan lain.
Apa perbedaannya?
Dua skenario yang berbeda. Keduanya dimulai dengan kejadian sama, tetapi mempunyai akhir yang berbeda. Apa bedanya? BAGAIMANA ANDA BEREAKSI!
Jika ada sesuatu hal yang negatif tentang Anda, jangan merengek atau ngambek! Biarkan serangan itu mengalir seperti air di dalam gelas. Bereaksi atau responlah dengan baik dan itu tidak akan merusak hari-hari Anda. Suatu reaksi/respon yang salah bisa mengakibatkan hilangnya seorang teman, stress, pikiran kalut dan sebagainya.
Contoh lain: Anda diberitahu bahwa Anda telah kehilangan pekerjaan. Mengapa Anda tidak bisa tidur dan resah? Gunakan energi dan waktu yang Anda salurkan pada kekhawatiran atau keresahan tersebut untuk mencari dan menemukan pekerjaan yang lain. Pesawat yang Anda tumpangi datang terlambat dan itu akan merusak jadwal yang telah Anda susun untuk hari itu. Mengapa Anda marah kepada customer service jasa penerbangan yang Anda gunakan? Dia tidak punya kendali atas apa yang terjadi.
Betapa banyak orang yang menderita stress atau tekanan yang tidak semestinya mereka terima, masalah pengadilan, permasalahan keluarga, kesedihan dan sebagainya yang mungkin merupakan akibat perbuatan atau juga karena reaksi mereka sendiri.
Read More..

ANDA SPESIAL

Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara yang unik. Sambil memegang uang pecahan Rp 100.000 ia bertanya kepada hadirin, “Siapa yang mau uang ini?” Tampak banyak tangan diacungkan, pertanda banyak yang berminat. “Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini.” Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai terlipat-lipat kusut. Lalu ia bertanya lagi, “Siapa yang masih mau uang ini?”
Jumlah tangan yang teracung tak berkurang. “Baiklah,” jawabnya, “Apa jadinya bila saya melakukan ini?” ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi. “Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?” Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.
“Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting. Apapun yang terjadi dengan uang ini, Anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp 100.000. Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tidak berharga, tidak bernilai. Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan. Jadi jangan pernah lupa: ANDA SPESIAL!!
Read More..

Thursday, October 15, 2009

MEMBERI UNTUK MEMPEROLEH

Banyak orang percaya pada petuah berikut: 'Jika Anda memberi, Anda akan memperoleh'. Saya tidak percaya pada petuah ini. Orang yang memberi untuk memperoleh berarti mengharapkan sesuatu dari yang dia berikan (disebut juga pamrih). Pemberian seperti ini bukanlah disebut sebagai pemberian tetapi pertukaran atau barter atau berdagang. Bukankah selalu ada pihak yang memberi dan memperoleh di dalam perdagangan? Orang yang bertumbuh dan layak menjadi pemimpin adalah mereka yang belajar untuk memberi tanpa peduli apakah akan mendapatkan sesuatu ataukah tidak.
Sesungguhnya, kita tidak tahu banyak hal tentang memberi. Sadarkah Anda bahwa salah satu masalah terbesar di dalam pernikahan adalah bahwa kita hanya tahu sedikit hal tentang memberi? Justru yang banyak terjadi adalah menuntut, menuntut dan menuntut.
Anda bisa saja kehilangan reputasi, rumah dan bahkan keluarga Anda, tetapi Anda tidak akan kehilangan kapasitas Anda untuk memberi jika Anda belajar untuk memberi.
Jika Anda memberi – apakah Anda akan memperoleh sesuatu atau tidak – maka Anda selalu memiliki kapasitas yang lebih besar untuk memberi. Bertambahnya kapasitas ini akan membentuk wadah yang selalu siap yang memungkinkan Anda untuk menghasilkan dan memberi, untuk hidup secara percaya diri dan aman, di dunia ini. Hidup yang lebih baik tumbuh dari bertambahnya kapasitas untuk memberi. Pemberian yang ikhlas menciptakan kehidupan yang ikhlas, dan menciptakan kapasitas untuk memberikan sesuatu yang orang lain tidak dapat memberikannya.
Read More..

Wednesday, October 14, 2009

APA PENGARUH MENONTON TV PADA KESUKSESAN KITA? TIDAK ADA!

Anda suka menonton TV? Siapapun pasti suka, terutama anak-anak. Tetapi coba perhatikan baik-baik tayangan di televisi, berapa jam dalam satu hari tayangan yang mengandung informasi tak bermanfaat (termasuk berita lokal, apalagi gosip)? Saya bertaruh bahwa hampir seratus persen tayangan di televisi, terlebih berita lokal, berformat problem atau masalah. Menonton berita lokal di TV menghabiskan banyak sekali waktu Anda.
Ada filosofi menarik dalam penyajian informasi berita lokal, yang saya ambil dari bahasa Inggris, if it bleeds, it leads.
Terjemahan bebasnya adalah apabila suatu tayangan mengandung berita berdarah-darah maka ia menarik. Ini bisa dimaklumi, karena kabar atau berita baik tidak menjual; oleh karenanya, jarang ditayangkan. Apa pengaruhnya bagi kesuksesan Anda? Nol besar!
Sebaliknya, yang Anda peroleh adalah informasi negatif tentang dua hingga tiga persen orang yang mempengaruhi mereka yang menontonnya begitu saja.
Saya TIDAK melarang Anda menonton (atau membaca) berita. Informasi yang dapat mempengaruhi bidang kerja atau pelanggan Anda, harus ditonton dan dibaca secara serius. Yang tak kalah pentingnya, kitalah yang memutuskan apa yang harus kita tonton, bukan sebaliknya. Saya sendiri baru membeli TV pada tahun 2006.
Apa hubungannya menonton berita lokal dengan pelayanan? Tidak ada. Pelayanan berbasis solusi, sementara berita lokal berbasis masalah.
Jika Anda menonton tayangan-tayangan yang penuh masalah selama satu jam sehari, setiap hari selama bertahun-tahun, maka Anda menjadi berorientasi masalah. Kemudian, Anda membawa berita tersebut ke tempat kerja dan mulai mempengaruhi orang lain dengan cerita Anda secara bersemangat. Hei, kamu dengar kan berita tentang anu…? Hati-hati, penyakit berita lokal menular.
Apakah berita lokal menambah atau mengurangi kemampuan kerja Anda? Apa pula pengaruhnya bagi keterampilan menjual Anda? Kecakapan bisnis Anda?
Berita menjadi populer karena kebanyakan orang yang menontonnya kekurangan arah atau fokus, atau tidak bahagia dan karenanya mencari sesuatu atau orang lain yang lebih tidak bahagia darinya.
Ingin tahu cuaca hari ini? Anda tinggal mendongakkan kepala Anda di pagi hari. Cara ini jauh lebih akurat daripada ramalan cuaca.
Anda beranggapan bahwa berita lokal sangat penting bagi waktu Anda? Berapa kali Anda bercermin dan berkata, “Saya orang sukses hari ini, karena saya menonton berita.”
Coba kita adakan hitung-hitungan sederhana. Katakanlah Anda menonton berita setengah jam sehari selama setahun terakhir. Itu berarti 7,5 hari (dalam hitungan 24 jam) yang Anda habiskan untuk menonton masalah dalam setahun. Dalam lima tahun, jumlahnya menjadi 38 hari penuh. Jika Anda bekerja 40 jam seminggu, itu setara dengan 23 minggu setiap tahun – dan itu jika Anda hanya menonton berita pukul 06.00 pagi. Jika Anda juga menonton berita pada siang hari, tinggal kalikan saja! Itu setara dengan 46 minggu kerja (per minggu 40 jam).
Bayangkan kemungkinan-kemungkinan lain jika Anda mengubah energi itu secara positif. Bayangkan apa yang dapat Anda lakukan dengan waktu itu, dan apa yang dapat Anda capai sepanjang waktu itu, jika Anda menggunakannya secara produktif. Mana yang lebih baik bagi Anda: menonton masalah-masalah orang lain atau menginvestasikan diri Anda dan membuat rencana-rencana dan solusi-solusi?
Berikut adalah empat penggunaan waktu berbasis solusi yang dapat Anda lakukan:
Bacalah jurnal bisnis, buku-buku inspiratif, buku-buku sikap positif, apapun yang mengandung humor, buku penjualan, buku pencipta trend, laporan tahunan, dan brosur pelanggan-pelanggan terbesar Anda. Pelajarilah semuanya.
Dengarkanlah beragam CD atau film-film inspiratif.
Jalinlah hubungan sebanyak mungkin, undanglah teman-teman (terutama yang pintar) dan rekan-rekan ke rumah Anda seminggu sekali untuk menciptakan ide-ide baru dan rencana tindakan.
Kuasailah Komputer, terutama yang berkaitan dengan tulis-menulis, merencanakan, belajar, dan berinternet. Komputer adalah jembatan terbesar ke abad dua puluh satu.
Setiap kali Anda berkata, "Saya tidak memiliki banyak waktu," gantilah dengan kalimat, "Saya tidak memilih untuk menghabiskan waktu saya pada hal-hal baik." Ini mendekati kebenaran. Yang sebenar-benarnya adalah bahwa Anda tidak menginvestasikan waktu Anda pada orang yang paling penting di dunia – yaitu Anda!
Cobalah Anda meluangkan waktu satu jam saja sehari dan mengubahnya menjadi tindakan yang positif atau belajar – bagi diri Anda sendiri, pekerjaan Anda, bisnis Anda, dan keluarga Anda. Di akhir tahun, Anda akan memperoleh 15 hari (hitungan 24 jam) untuk membangun masa depan Anda.


Read More..

Saturday, October 10, 2009

MEMOTIVASI DIRI SENDIRI

Saat ini kita dapat menemukan banyak sekali motivator – orang maupun sesuatu yang berupaya memotivasi orang lain untuk membeli sebuah produk atau membayar nasehat mereka. Kelas-kelas dan grup-grup motivasi dijejali orang dan buku-buku motivasi banyak yang mencetak best-seller. Motivasi adalah sebuah bisnis besar!
Tetapi cobalah melihat lebih dekat para motivator ini – ada yang mencapai titik dimana mereka dapat memotivasi siapapun di dalam mengerjakan sesuatu dan kesuksesan dapat mereka raih, namun yang menyedihkan adalah mereka lupa belajar bagaimana memotivasi dirinya sendiri!
Mana yang Anda pilih – menjadi seorang motivator yang menyedihkan tetapi sukses atau menjadi orang biasa yang bahagia tetapi termotivasi? Saya sendiri memilih menjadi orang biasa yang bahagia dan termotivasi. Jika saya belajar untuk termotivasi, pada akhirnya saya akan menjadi seorang motivator yang sukses bagi orang lain dan merasa bahagia menjalankannya. Motivator yang dapat memotivasi setiap orang kecuali dirinya sendiri bisa memenangkan dunia tetapi dia tidak pernah menikmatinya.
Saya sangat mempercayai tujuan saya dan karenanya saya berjanji untuk selalu membuat kemajuan dalam hidup. Selain itu saya juga mengucapkan kata ‘semangat!’ setiap hari. Belakangan saya menyadari betapa besar dampak dari ucapan sederhana ini terhadap pekerjaan dan kehidupan saya.
Yang tak kalah penting dari janji dan bagaimana menjaganya adalah belajar tentang keterlibatan penuh dan komitmen. Ada orang yang terlibat penuh dengan pekerjaan mereka tetapi tidak berkomitmen. Ada pula yang berkomitmen tetapi tidak melibatkan diri sepenuhnya. Keduanya ini saling bertalian, dan saya yakin bahwa tak ada cara untuk belajar menjadi orang yang termotivasi tanpa keterlibatan total dan berkomitmen terhadap apapun yang Anda lakukan!
Motivasi diri tidak datang begitu saja. Diperlukan proses untuk itu. Coba dari hal kecil dengan mengatakan kata atau kalimat penyemangat atau pikiran-pikiran besar dan KATAKAN SETIAP HARI. Dan lihatlah betapa luar biasa hasilnya.
Contoh dari kalimat penyemangat ini diantaranya:
  • Saya adalah orang yang paling ramah di dunia.
  • Saya adalah orang yang paling bersemangat di dunia.
  • Saya tidak berprasangka atau merendahkan orang lain.
  • Saya ingin mengingat masa-masa baik sesering mungkin.
  • Saya suka melayani.
  • Saya suka menjual.
  • Saya tidak akan mengeluh atau merengek tentang hidup saya. Sebaliknya, saya akan merayakan semua yang saya miliki, semua yang saya cintai, dan semua yang aka saya pelajari.
  • Dan lain-lain
Motivasi terbesar yang saya dapatkan berasal dari dalam hati saya sendiri. Pengalaman atau kisah orang lain tidak pernah bisa memotivasi Anda sebaik pengalaman dan kisah Anda sendiri.
Kegagalan yang pernah saya alami ternyata menjadi motivator yang luar biasa bagi diri saya. Merenungi kegagalan dan berkutat pada sesuatu yang negatif hanya akan menghambat diri kita untuk menjadi orang yang termotivasi. Justru jadikan kegagalan dan keterpurukan sebagai cambuk sehingga akan menjadikan kita tumbuh luar biasa dan berani menyongsong tantangan di depan mata.
Read More..